Latest News

Akhir-akhir ini, Cuaca Sangat Panas, Ini Penjelasan BMKG!

Berapa hari belakangan ini orang mengeluh tentang panasnya suhu siang hari dan suasana yang cenderung panas. Memang, bulan ini Indonesia memasuki musim kemarau. Tetapi apakah penyebabnya hanya itu?

Herizal, Deputi Bidang Klimatologi, Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG), menjelaskan penyebab cuaca sangat panas, dikutip dari situs resmi BMKG.

Baca juga: COVID-19 Akan Hilang di Musim Panas, Hanya Mitos. Masih ada 9 mitos lainnya!

Penyebab Cuaca Panas

Menurut BMKG, berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan cuaca panas belakangan ini:

1. Kombinasi Peningkatan Suhu Udara dan Kelembaban Rendah

Menurut BMKG, suasana nyala umumnya disebabkan oleh suhu tinggi dan disertai dengan kelembaban yang rendah. Ini terutama benar dalam kondisi langit yang cerah dan kurangnya awan, sehingga lebih banyak sinar matahari langsung ditransmisikan ke permukaan bumi.

Sesuai dengan prediksi BMKG sebelumnya, dari Maret hingga April menunjukkan suhu terus menghangat, hampir di sebagian besar tempat di Indonesia. Pemantauan oleh BMKG April ini, mengidentifikasi banyak daerah yang mengalami suhu maksimum 34 ° hingga 36 ° C, bahkan yang tertinggi tercatat pada 37,3 ° C pada 10 April 2020 di Karangkates, Malang.

Sementara kelembaban udara minimum di bawah 60% diamati di beberapa bagian Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagian Jawa Timur dan Riau.

Secara klimatologis, bulan April-Mei-Juni memang dicatat sebagai bulan-bulan di mana suhu maksimum mengalami puncak di Jakarta, selain Oktober – November. Pola ini mirip dengan pola suhu maksimum di Surabaya, sedangkan di Semarang dan Yogyakarta, pola suhu maksimum akan terus meningkat secara bertahap pada bulan April dan mencapai puncaknya pada bulan September – Oktober.

Baca juga: 5 Langkah Merawat Kulit Anda Selama Cuaca Panas

2. Transisi Musim Hujan ke Musim Kemarau

Berkurangnya tutupan awan, terutama di bagian selatan Indonesia pada bulan-bulan ini karena wilayah ini sedang dalam masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Seperti yang diprediksi sebelumnya oleh BMKG, seiring dengan pergerakan matahari yang tampak dari posisi di atas garis khatulistiwa ke belahan bumi utara.

Musim transisi ditandai dengan dimulainya angin dari Benua Australia (monsun Australia), terutama di bagian selatan Indonesia. Musim hujan Australia ini kering dan tidak membawa uap air, yang mencegah pertumbuhan awan.

Kombinasi kurangnya tutupan awan dan suhu udara serta kelembaban yang tinggi cenderung menurun inilah yang menyebabkan suasana terik dirasakan oleh masyarakat.

3. Pemanasan Global

Meskipun suhu tinggi maksimum hari ini tidak dapat dikatakan dipicu langsung oleh perubahan iklim, dalam analisis perubahan iklim oleh para peneliti BMKG menggunakan data panjang sejak 1866, diketahui bahwa tren suhu maksimum di Jakarta telah meningkat secara signifikan sebesar 2,12 ° C per 100 tahun. (Penelitian Siswanto et al., 2016, Jurnal Internasional Klimatologi).

Demikian juga di lebih dari 80 stasiun BMKG untuk mengamati suhu udara di Indonesia dalam 30 tahun terakhir (Supari et al., 2017, Jurnal Internasional Klimatologi).

Tren kenaikan suhu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak tempat di dunia, yang kemudian kita kenal sebagai fenomena pemanasan global. Pemantauan suhu rata-rata global menunjukkan bahwa hampir setiap tahun rekor baru untuk suhu tertinggi di dunia dicatat.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) dalam rilisnya pada 15 Januari 2020 menyatakan bahwa 2019 adalah tahun ke-2 terhangat sejak 1850, setelah 2016. Analisis BMKG menunjukkan hal yang sama untuk suhu rata-rata di wilayah Indonesia di mana 2019 juga merupakan tahun ke-2 terpanas setelah 2016. Suhu rata-rata 2019 adalah 0,95 ° C lebih hangat dari suhu rata-rata iklim periode 1901-2000.

Baca juga: Ternyata sepiring makanan berkontribusi terhadap pemanasan global!

4. Peningkatan Suhu Permukaan Laut

Tren pemanasan suhu udara permukaan juga diikuti oleh tren pemanasan di lautan. Secara umum, suhu permukaan laut 5 tahun terhangat secara global telah diamati dalam 6 tahun terakhir. Penelitian oleh Cheng et al. Diterbitkan di Jurnal Kemajuan dalam Ilmu Atmosfer pada Januari 2020, ditemukan peningkatan suhu rata-rata permukaan laut global pada tahun 2019 adalah 0,075 ° C di atas rata-rata klimatologis 1981-2019.

Hal yang sama ditunjukkan oleh suhu permukaan laut di perairan Indonesia. Studi BMKG (Siswanto et al) yang diterbitkan dalam International Journal of Climatology, 2016 menemukan bahwa suhu permukaan laut di Laut Jawa dan Samudera Hindia Barat di Sumatra juga terus menghangat dengan kenaikan sekitar 0,5 ° C sejak tahun 1970-an, sedikit lebih rendah daripada tren rata-rata global rata-rata.

Suhu permukaan laut di perairan Indonesia pada umumnya agak dingin pada tahun 2019 karena pengaruh fenomena tersebut Mode Dipol Positif Samudra Hindia kuat dan kategori lemah El Nino.

Pemanasan berkelanjutan dari suhu udara permukaan dan suhu permukaan laut secara global dan kontras antara keduanya dapat memicu perubahan cuaca dan dinamika iklim di suatu daerah, dan dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem atau badai tropis.

Dari kemungkinan penyebab cuaca panas saat ini, menurut Herizal, penjelasan yang paling mungkin adalah karena posisi gerakan semu matahari yang jelas dan mulainya angin muson kering dari benua Autralia, yang berdampak pada kurangnya tutupan awan di atas. Wilayah Indonesia, sehingga sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa penghalang awan.

Baca juga: Sakit Kepala Dingin Pemicu Cuaca

Sumber:

BMKG.go.id. Suhu panas dipicu oleh pemanasan global

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top