Latest News

Obat-obatan Herbal Juga Perlu Dibakukan

Untuk meningkatkan kualitas, keamanan dan manfaat obat tradisional, salah satu langkah yang diambil adalah standardisasi bahan baku yang digunakan dalam produksi obat tradisional, termasuk standarisasi ekstrak. Pemerintah melakukan fungsi bimbingan dan pengawasan dan melindungi konsumen untuk menjunjung tinggi trilogi "kualitas-keselamatan-manfaat".

Dijelaskan oleh Dr. Fira Amaris, M.Sc (Herbal.) Dari Perhimpunan Dokter Medis Indonesia (PDHMI), serta obat-obatan sintetis,ember jamu juga harus memenuhi prinsip rasionalitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Efek samping, kontraindikasi dan interaksi obat harus diamati.

Standarisasi sediaan obat tradisional merupakan persyaratan harus dipenuhi untuk mewujudkan pengulangan (rdaya tahan tubuh) menuju kualitas rumus atau terapi. Dalam upaya standarisasi, perlu untuk menentukan persyaratan standar berangkat ke dalam Peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Standarisasi sediaan obat tradisional tidak sulit jika senyawa aktifnya diketahui sehingga dapat digunakan untuk membantu menentukan kualitas bahan obat. Pada prinsipnya, standardisasi obat tradisional dilakukan mulai dari bahan baku hingga persiapan jadi.

Baca juga: Jangan Meremehkan Nyeri Kepala

Berdasarkan ini, dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu:

  1. Standarisasi bahan: persiapan (dapat ekstrak disederhanakan atau standar / tingkat bahan aktif yang dikenal

  2. Standardisasi produk: kandungan bahan aktif stabil atau tetap.

  3. Standarisasi proses: metode, proses dan peralatan dalam pembuatan sesuai dengan Cara Membuat Obat Tradisional BaikCPOTB).

Simplisia adalah produk pertanian tanaman obat setelah melalui proses pasca panen dan proses persiapan menjadi bentuk produk yang siap digunakan atau siap untuk diproses lebih lanjut.

Proses panen dan persiapan simplisia adalah proses yang menentukan kualitas simplisia mencakup komposisi bahan, kontaminasi dan stabilitas bahan. Standarisasi simplisia memiliki pemahaman bahwa simplisia yang akan digunakan untuk obat sebagai bahan baku harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam monograf yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan resmi (Materia Medika Indonesia). Sementara itu, sebagai produk yang langsung dikonsumsi (sebagai bubuk jamu) harus memenuhi persyaratan produk farmasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Simplisia harus memenuhi parameter standar umum termasuk kebenaran spesies, bebas dari kontaminasi dan stabilitas kimia dan biologis (dalam hal wadah, penyimpanan dan transportasi). Selain itu Kualitas-Keamanan-Kemanjuran (Kualitas-Keamanan-Efektivitas) juga penting jika simplisia adalah produk konsumsi manusia.

Dalam bentuk ekstrak, selain persyaratan monograf bahan baku (simplicia), persyaratan kualitas ekstrak diperlukan yang terdiri dari beberapa parameter yang harus diukur atau dianalisis sehingga bahan obat atau persiapan obat keamanan dapat dijamin untuk konsumen atau pengguna komunitas dan sesuai dengan Farmakope Indonesia dan Materia Medika Indonesia.

Parameter ini dikelompokkan menjadi dua yaitu:

  1. Parameter non spesifik: berfokus pada aspek kimia, mikrobiologis, dan fisikk yang akan mempengaruhi keamanan dan stabilitas konsumen

  2. Parameter khusus berfokus pada senyawa atau kelompok senyawa yang bertanggung jawab untuk aktivitas farmakologis.

Jenis sediaan jamu sangat beragam, mulai dari sediaan yang sangat sederhana seperti jus, seduhan hingga penggunaan teknik modern. Tujuan dari proses pembuatan obat herbal adalah untuk menambah konten senyawa aktif, dan membuatnya lebih mudah dalam hal distribusi dan memberikan kenyamanan kepada pengguna, menghilangkan senyawa atau kelompok senyawa yang tidak diinginkan.

P.proses standardisasi obat tradisional diperlukan untuk menghasilkan produk yang berkualitas baik sebelum diproduksi pada skala industri. Beberapa negara di Eropa, Jepang dan Australia memerlukan produk obat herbal untuk memenuhi persyaratan GMP (Praktek Manufaktur yang Baik). Indonesia juga telah melakukan hal yang sama dengan menetapkan standar seperti CPOTB (Cara Membuat Obat Tradisional yang Baik).

Baca juga: Waspadai Penularan Penyakit Paling Menular!

Referensi:

  1. Depkes RI. (1995). Materia Medika Indonesia, Volume VI, cetak pertama. Jakarta, Kementerian Kesehatan: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

  2. Depkes RI. (2000). Parameter Standar Umum dari Ekstrak Tumbuhan Obat, cetak pertama. Jakarta, Kementerian Kesehatan: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 13-33.

  1. Hidayah, R.N. (2010). Standarisasi Ekstrak Metanol Kulit Nangka. Tesis. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhamadiyah, Surakarta. 4

  2. I Made, O.A.P. (2017). Obat tradisional. Materi pengajaran. Bali: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.

  3. Mun & im, A. and Hanani, E. (2011). Phytotherapy Dasar, cetak pertama. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top