Latest News

Turunkan Berat Badan Lagi? Waspadalah, Jangan Tersesat Oleh 5 Mitos Diet Ini!

Harus diakui, banyak mitos diet yang beredar di masyarakat. Keinginan untuk menurunkan berat badan dengan cepat menyebabkan banyak orang melakukan pola makan yang salah bahkan berbahaya. Lantas, apa saja mitos diet yang harus Anda ketahui?

Informasi Diet Berlimpah di Internet

Secara umum, teknologi telah memberikan banyak manfaat dalam upaya kita menjalani hidup yang lebih sehat. Teknologi seperti internet dan handphone sudah menjadi rujukan umum saat kita mencari informasi tentang diet.

Informasi yang dicari para pelaku diet atau mereka yang ingin menurunkan berat badan biasanya tidak jauh dari pola makan yang dapat menurunkan atau menjaga berat badan ideal. Namun, mencari informasi secara online on line juga bisa menjadi pedang bermata dua.

Di satu sisi internet memberikan informasi tentang cara yang mudah dan cepat untuk mengakses berbagai informasi gizi, namun di sisi lain hal ini memunculkan mitos dan misinformasi terkait gizi di masyarakat.

Direktur Senior, Pendidikan & Pelatihan Gizi Sedunia, Herbalife Nutrition, Susan Bowerman, menambahkan, jika mengacu pada Survei Mitos Nutrisi Asia Pasifik Herbalife Nutrition 2020, Media sosial (68%) adalah saluran yang paling sering digunakan oleh konsumen di Asia Pasifik untuk informasi terkait gizi.

"Namun konsumen di Asia Pasifik juga bingung apakah informasi yang didapat itu fakta atau mitos," kata Bowerman dalam siaran persnya, Kamis (13/8).

Baca juga: Tren DEBM, Diet Lezat, Bahagia, Mengenyangkan yang Sukses Turunkan Berat Badan

5 Mitos Diet Yang Perlu Dikoreksi

Berdasarkan hasil kuis yang dilakukan selama survei, berikut adalah daftar mitos terkait pola makan, gizi, dan pengaturan berat badan yang umumnya beredar di masyarakat. Enam dari 10 orang mengatakan sulit untuk memutuskan apakah ini fakta atau mitos:

1. Mitos: Diet ketogenik adalah cara yang sehat untuk menurunkan berat badan

Diet ketogenik bukanlah cara yang paling berkelanjutan untuk menurunkan berat badan karena Anda akan kehilangan beberapa nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh Anda. Seseorang yang menjalani diet keto mengonsumsi sangat sedikit karbohidrat, jumlah protein sedang, dan jumlah lemak yang sangat tinggi, memaksa tubuh untuk mengandalkan lemak tubuh sebagai bahan bakar.

Sementara diet ini membakar lemak tubuh, konsumsi karbohidrat yang rendah menyebabkan lebih sedikit vitamin dan mineral yang diserap ke dalam tubuh, serta kekurangan serat.

2. Mitos: Diet Pembersihan dengan jus adalah strategi yang baik untuk menurunkan berat badan

Mengkonsumsi jus mungkin merupakan pilihan yang tepat dalam upaya Anda untuk mengatur berat badan. Tetapi sayuran tidak mengandung banyak nutrisi penting untuk menurunkan berat badan seperti protein.

Protein berfungsi memuaskan nafsu makan dan menjaga massa otot. Berat badan yang Anda turunkan saat menjalani diet kemungkinan besar akan kembali saat Anda mulai makan secara normal lagi. Jadi alih-alih jus buah, makan buah dan sayuran utuh, dan sebagai bagian dari diet seimbang, akan jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang.

Baca juga: Ngemil Kuaci Bisa Turunkan Berat Badan Lho!

3. Mitos: Karbohidrat membuat berat badan bertambah

Karbohidrat paling sering disalahkan sebagai penyebab penambahan berat badan. Kelebihan kalori memang memainkan peran besar dalam menambah berat badan secara signifikan. Untuk memastikan pola makan yang seimbang, Filosofi Nutrisi Global Herbalife merekomendasikan bahwa 40 persen dari asupan kalori harian Anda berasal dari sumber karbohidrat yang sehat.

Contoh karbohidrat sehat adalah sayur mayur, buah-buahan, kacang-kacangan dan biji-bijian. Karbohidrat yang sehat dapat memberi tubuh nutrisi penting seperti kalsium, zat besi, serat, dan vitamin B.

4. Mitos: Puasa intermiten merupakan cara efektif untuk menurunkan berat badan

Puasa intermiten adalah istilah umum untuk berbagai waktu makan, bergantian antara puasa dan tidak puasa dalam beberapa jam. Penting untuk diperhatikan bahwa puasa untuk menurunkan berat badan tidak cocok untuk semua orang.

Mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti diabetes, atau mereka yang sedang menjalani pengobatan untuk tekanan darah tinggi atau penyakit jantung harus menghindari puasa intermiten.

Ini karena puasa intermiten tanpa berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat menyebabkan kadar glukosa darah mereka turun atau naik secara berbahaya. Belum lagi risiko kekurangan elektrolit.

5. Mitos: diet sangat rendah lemak adalah cara terbaik untuk menurunkan berat badan

Kehadiran lemak sangat penting bagi tubuh kita untuk tetap sehat, karena membantu membangun membran sel dan hormon, serta membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K. yang larut dalam lemak.

Banyak diet rendah lemak melibatkan penggantian kalori lemak dengan karbohidrat dan gula olahan tinggi. Tentu ini tidak efektif dan tidak akan meningkatkan kualitas makanan secara keseluruhan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa diet yang sangat rendah lemak menurunkan lebih sedikit berat badan pada tahun pertama diet. Ini menunjukkan bahwa diet sangat rendah lemak bukanlah diet terbaik sebagai strategi penurunan berat badan jangka panjang.

Baca juga: Diet Paling Sehat untuk Generasi Milenial Menurut Para Ahli!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top